Perusak itu Sebenarnya adalah Anda Sendiri!

Mengagumi bukan berarti menghargai!
Itu adalah pandangan saya terhadap Rakyat Indonesia (well, saya terlalu menggeneralisir), terhadap segelintir oknum di Indonesia lebih tepatnya. Sejujurnya di dalam hati ini (haha!) sudah melabel orang-orang tersebut sebagai PERUSAK. In fact, they are! Mungkin beberapa pandangan bisa saya uraikan terhadap penilaian saya:

1. Musium adalah untuk MATA dan OTAK anda!
Anda sebagai orang Indonesia tentu pernah berkunjung ke Musium, walaupun itu hanya 1 kali di dalam kehidupan Anda, itupun terhitung pernah. Jika anda berkesempatan mengunjungi musium di luar negeri sana, (ga usah jauh-jauh, kita melihat ke negara kecil di Barat Laut Indonesia, Singapura) mohon anda untuk tidak hanya mempelajari esensi dan nilai yang ada di dalam musium tersebut namun juga observasi dan amati etika dan tabiat para pengunjungnya. Anda dapat jelas membandingkan perbedaannya - some say, "Jangan beda-bedain Indonesia sama negara maju lah" or "Ga usah sok internasional deh, dengan membeda-bedakan Indonesia dengan negara lain. Cintai lah Indonesia" or many others. 
Pengunjung musium di negara yang tadi saya sebutkan itu, sangat mengerti etika dalam wisata musium. Mereka paham benar bahwa barang-barang yang ada di dalam musium itu hanya untuk dilihat dan dipelajari karena mungkin saja barang tersebut tidak ternilai harganya dan mereka sadar bahwa barang tersebut adalah warisan nenek moyang mereka or in other word, barang tersebut diwariskan untuk rakyat di negerinya bukan untuk satu golongan tertentu -, tidak untuk disentuh kecuali barang-barang yang telah diduplikasi dan simplified. 
Kita kembali lagi ke Indonesia tercinta. Baru-baru ini saya mengunjungi Museum Nasional di Jakarta. Tiket masuk yang terjangkau bagi seluruh kalangan, (hanya Rp 5.000 untuk turis domestik dan Rp 10.000 for International tourist) mungkin belum menjadi daya tarik warga sekitar untuk mengujungi musium tersebut - mall mungkin lebih menarik :p. Pemandangan yang disuguhkan untuk rute pertama wisata Musium Nasional adalah arca dari koleksi masa Hindu Budha di Indonesia. Beragam batu ukiran dan patung-patung dipamerkan untuk dipelajari. Salah satu arca terbesar yang ada adalah Arca Adityawarman.
Arca AdityawarmanCopyright Wikipedia
Jika kita bisa lihat bersama, di bagian bawah patung tersebut (lutut ke bawah) sudah mulai menghitam. Ada yang bilang, karena batu yang digunakan untuk memahat patung tersebut adalah batu yang bermineral, maka semakin sering terkena sentuhan tangan manusia, batu akan semakin licin dan berubah warna. KONKLUSINYA: arca tersebut terlalu sering disentuh. 

2. Lukisan pajangan pun adalah untuk MATA dan OTAK anda!
Tidak hanya arca atau patung-patung lainnya. Lukisan pun sebenarnya hanya untuk mata Anda bukan untuk tangan. Karena apa? Karena tangan kita, tangan manusia, sangat ajaib. Tangan kita dapat mengalirkan hangat tubuh dan enzim-enzim yang lama kelamaan dapat merubah bentuk suatu zat tertentu. 
Jika suatu saat kita berkesempatan jalan-jalan ke suatu tempat (bisa jadi itu hotel atau mall) dan ada lukisan yang tidak berkaca dengan tekstur timbul atau teknik pelukisan yang berbeda dari lukisan pada umumnya, pasti akan ada 1 2 3 orang yang penasaran dan ujung-ujungnya memegang permukaan lukisan tersebut. 
It is just a simple thing. Tapi itu adalah bagian dari perusakan karya. Dengan anda menyentuh permukaan tersebut, nilai dari teknik tersebut dapat memudar. Kembali lagi, karena tangan manusia itu sangat ajaib! Bisa berkarya, bisa pula merusak. 

3. Taman Indah adalah Taman Narsis.
Beberapa waktu terakhir ini, banyak sekali taman-taman gratis yang dibangun oleh pemerintah yang dikhususkan untuk warganya agar dapat relaksasi dan menikmati pemandangan. Misal, Taman Bungkul di Surabaya dengan hamparan rumput hijaunya dan dimaniskan oleh bunga-bunga di beberapa sudut taman dirusak oleh warganya sendiri. Crazy isn't it? 

Taman Bungkul by Kaskus
Padahal ongkos pembuatan dan perawatan taman bukanlah angka yang kecil, dan dana tersebut pun berasal dari kantong warganya. Serbasalah memang. Jika kita berhitung, agar ada penghematan perawatan taman, bisa saja taman tersebut dikelola oleh pihak swasta. Tapi pasti akan ada saja kritik dan aksi protes atas keputusan tersebut. Jadi? Boleh lah pemerintah kita galau untuk memfasilitasi warganya dengan taman dan kehijauan, karena warganya tidak sadar bahwa taman tersebut adalah MILIK BERSAMA dan harus SALING MERAWAT

Belum lagi ada fenomena aksi Narsis di Indonesia. Duh, bagaikan wabah virus, hampir setiap orang berlomba-lomba membeli handphone pintar yang dilengkapi kamera canggih, applikasi manipulasi gambar, dan internet. Karena, in case mereka jalan ke suatu taman, camera standby dan langsung upload! Yay, hidup gue ngehits banget gilak. Hal tersebut wajar lah, yang tidak wajar adalah ketika mereka masuk ke taman yang dimana terpampang tulisan "Dilarang menginjak rumput dan tanaman lainnya" atau masuk ke lapangan yang jelas ada pagar penanda "Restricted Area". 

Saya hanya bisa mengelus dada. Mungkinkah ini warisan hasil dijajah bangsa Eropa selama ratusan tahun?

Teman-teman, Mas Mbak Adik Kakak Om Tante, mari kita menjaga apa yang disebut dengan keindahan dengan hanya cukup dengan memanjakan mata. Boleh kok, selfie atau ambil gambar, tapi tidak berarti kita harus merusak apa yang harusnya kita jaga. Budaya seperti itu memang harus direvolusi. 


Comments